Saya dan suami sering sekali diskusi banyak hal dimanapun kami berada, saat jalan jalan di supermarket, di depan TV, saat naik motor, saat mengendarai mobil. Suami dan saya suka sekali berbagi ilmu dan pikiran baru. Jika salah satu dari kami ikut suatu majlis ilmu maka salah satu dari kami pasti tidak sabar untuk menunggu sesi bagi ilmu. kami lebih suka berdiskusi dengan tatap fisik, bukan lewat media sosial.
Pekerjaan saya dan apa yang akan saya lakukan di masa datang adalah salah satu yang sering kami diskusikan.
Hmmm, sebenarnya ketika akan menikah dulu saya sudah menyiapkan mental untuk menjadi apapun ketika berumah tangga. Jika suami menghendaki saya dirumah saya akan dirumah, ketika saya harus bekerja diluar saya akan kerja. yang saya siapkan waktu itu hanya satu, saya siap belajar menjadi apapun.
Setelah selesai menyapih anak kedua saya didukung suami memutuskan saya akan bekerja di lembaga tempat saya bekerja dulu, tapi dengan posisi pekerjaan yang berbeda. Suami mendukung saya bekerja karena menurutnya saya akan lebih baik jika bekerja mengingat persoalan domestik rumah tangga kami. Awal bekerja saya sering berpikir sebaiknya saya dirumah saja, terus-terusan berpikir bahwa stay dirumah menjaga anak-anak itu jauh lebih baik, sering tidak tega meninggalkan anak-anak di sekolah yang seringkali masih nangis-nangis saat ditinggal, tekanan kerja yang cukup mengganggu dsb. Namun suami saya meyakinkan bahwa apa yang saya lakukan itu demi mendidik anak bangsa agar mereka punya kualitas yang lebih baik dengan membagikan ilmu saya. pesan suami saya yang selalu terngiang sampe sekarang, Semangat mendidik anak bangsa ya, Mi.
Kalimat itu membangunkan semangat saya lagi bahwa apa yang saya lakukan bukan hal kecil, memang butuh pengorbanan yang besar. Meskipun yang terjadi kecil tapi niatan yang besar bisa membuat amal saya yang kecil ini bernilai besar di mata allah.
Menjadi ibu adalah kodrat saya sebagai perempuan, tapi memilih untuk mendedikasikan ilmu untuk membekali generasi bangsa adalah pilihan untuk berkarya. Ketika pilihan itu sudah diambil maka yang harus dilakukan selanjutnya adalah menjalaninya dengan ikhlas dan maksimal. mendidik anak sendiri sudah jadi kewajiban, dan naluri seorang ibu pasti akan mendorong untuk melakukannya dengan sangat maksimal. tidak perlu saling mengalahkan peran, yang terpenting suami istri saling mendukung agar segala peran bisa berjalan denga maksimal dan meninggalkan jejak kebaikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar