Rabu, 03 Juni 2026

Romantis itu...

Seorang sepupu yang sudah malang melintang di dunia percintaan dan perjodohan (apa maksutnya coba😅😅) yang jelas salah satu pekerjaan dia adalah menjodohkan jomblower2 pernah bertanya, mba sama suami nggak pernah piknik ke tempat wisata gitu pa?. Dia tanya seperti itu karena kami berteman di sosial media dan tidak atau jarang mendapati upload foto-foto kami di tempat wisata atau sekedar selfi romantis, kata anak jaman now.

Waktu itu saya jawab, kami beberapa kali ke tempat wisata dan kami foto-foto juga disana tapi jarang kami upload foto di sosmed atau kami memang tidak suka upload foto. Mungkin kami pikir itu cukup untuk kami. Kami belum atau tidak perlu menampakkan keromantisan

Romantis menurut saya itu

saat suami menenteng tas wanita saya kemana-kemana saat kami belanja di supermarket atau pusat belanjaan sementara saya gendong si bungsu. Doi juga sering tanpa diminta langsung menggendong si bungsu kalo saya sedang bawa tas. Mungkin yang terlihat ini seperti penindasan, but I like it ha ha ha
atau saat saya pulang, suami saya udah mencuci baju walaupun habis itu dia akan bisik2, nanti abi boleh berangkat futsal ya😂😏, ternyata ada maunya..

atau saat tiba-tiba dia bawa jajanan ke rumah tanpa diminta, atau saat kami berbagi pekerjaan rumah tanpa harus perintah ini itu. 
dan dia sangat romantis karena selalu punya SOP akan mengantar istrinya kemanapun jika dia ada di rumah, meskipun itu hanya ke warung dekat rumah. apalagi pergi ke tempat yang agak jauh.
di rumah tangga lain, mungkin istri yang sering mijitin suami, tapi di Rumah tangga kami, suami yang tiap malam mijitin istri tanpa diminta. bahkan seolah sudah reflek ketika istri tiduran, tangannya akan reflek memijat.
beliau juga tidak pernah protes apapun masakan istrinya, selalu berusaha menghabiskan bekal dari istri.

Romantis itu punya definisi tersendiri bagi setiap pasangan rumah tangga. Tidak bisa distandarkan seperti yang ada di film-film romantis atau novel. Temukan makna keromantisan di setiap rumah kita sendiri.

Selasa, 13 Januari 2015

lagi lagi soal ibu bekerja

Saya dan suami sering sekali diskusi banyak hal dimanapun kami berada, saat jalan jalan di supermarket, di depan TV, saat naik motor, saat mengendarai mobil. Suami dan saya suka sekali berbagi ilmu dan pikiran baru. Jika salah satu dari kami ikut suatu majlis ilmu maka salah satu dari kami pasti tidak sabar untuk menunggu sesi bagi ilmu. kami lebih suka berdiskusi dengan tatap fisik, bukan lewat media sosial.
Pekerjaan saya dan apa yang akan saya lakukan di masa datang adalah salah satu yang sering kami diskusikan.
Hmmm, sebenarnya ketika akan menikah dulu saya sudah menyiapkan mental untuk menjadi apapun ketika berumah tangga. Jika suami menghendaki saya dirumah saya akan dirumah, ketika saya harus bekerja diluar saya akan  kerja. yang saya siapkan waktu itu hanya satu, saya siap belajar menjadi apapun. 
Setelah selesai menyapih anak kedua saya didukung suami memutuskan saya akan bekerja di lembaga tempat saya bekerja dulu, tapi dengan posisi pekerjaan yang berbeda. Suami mendukung saya bekerja karena menurutnya saya akan lebih baik jika bekerja mengingat persoalan domestik rumah tangga kami. Awal bekerja saya sering berpikir sebaiknya saya dirumah saja, terus-terusan berpikir bahwa stay dirumah menjaga anak-anak itu jauh lebih baik, sering tidak tega meninggalkan anak-anak di sekolah yang seringkali masih nangis-nangis saat ditinggal, tekanan kerja yang cukup mengganggu dsb. Namun suami saya meyakinkan bahwa apa yang saya lakukan itu demi mendidik anak bangsa agar mereka punya kualitas yang lebih baik dengan membagikan ilmu saya. pesan  suami saya yang selalu terngiang sampe sekarang, Semangat mendidik anak bangsa ya, Mi.
Kalimat itu membangunkan semangat saya lagi bahwa apa yang saya lakukan bukan hal kecil, memang butuh pengorbanan yang besar. Meskipun yang terjadi kecil tapi niatan yang besar bisa membuat amal saya yang kecil ini bernilai besar di mata allah.
Menjadi ibu adalah kodrat saya sebagai perempuan, tapi memilih untuk mendedikasikan ilmu untuk membekali generasi bangsa adalah pilihan untuk berkarya. Ketika pilihan itu sudah diambil maka yang harus dilakukan selanjutnya adalah menjalaninya dengan ikhlas dan maksimal. mendidik anak sendiri sudah jadi kewajiban, dan naluri seorang ibu pasti akan mendorong untuk melakukannya dengan sangat maksimal. tidak perlu saling mengalahkan peran, yang terpenting suami istri saling mendukung agar segala peran bisa berjalan denga maksimal dan meninggalkan jejak kebaikan.

efforts and what you get.

seorang teman yang sudah berkeluarga dengan 2 anak bekerja di sebuah lembaga keuangan mikro. Bagi atasan teman ini, dia dinilai sangat buruk kinerjanya, kerja dengan ekspresi males-malesan, sering menunda-nuda pekerjaan dan laporan administrasi tiap hari sering ada kesalahan. belum lagi sering izin tanpa alasan yang bisa diterima kelembagaan. 
Singkat cerita, sebenarnya beberapa kali atasan teman tersebut sudah memperingatkan temanku dengan berbagai cara, atas asas kekeluargaan dan saling menolong, teman tersebut masih dipertahankan untuk bekerja disana.
orang yang bersyukur salah satu cirinya dia akan bekerja dengan maksimal pada pekerjaannya saat itu karena sadar bahwa bisa jadi banyak orang yang menginginkan pekerjaannya saat ini diluar sana. perkara gaji bagi orang yang bersyukur adalah kepasrahan kepada allah. Bukan berarti bahwa apabila digaji dengan tidak wajar kita harus terima apa adanya. tapi sepanjang kita masih bekerja di tempat yang memberi gaji yang sedikit itu, berarti kita memang belum bisa bekerja di tempat lain. jika kita tak ada pilihan lain untuk bekerja di tempat lain, maka pilihan kita hanya bersyukur dan bekerja dengan maksimal.
orang yang bersyukur akan bekerja dengan penuh keikhlasan. Ikhlas bekerja karena berharap allah menolongnya dan berharap allah ridlo atas apa yang dia kerjakan. tiada rugi bagi orang yang ikhlas. kalaupun dia sudah bekerja dengan maksimal dan ikhlas tapi apa yang diperoleh masih jauh dari kata cukup maka allah akan mencukupkannya dari jalan-jalan yang lain. allah beri dia kesehatan, keluarga yang bahagia, anak-anak yang sehat dan nikmat-nikmat lain yang hanya akan dia rasakan ketika ada rasa syukur. Bisa jadi allah tambahkan nikmat dari jalan-jalan yang lain karena nikmat allah tidak selalu berupa sesuatu yang bisa kita miliki melainkan segala sesuatu yang bisa kita nikmati meskipun itu bukan milik kita.
Inilah salah satu kerangka makna bahwa kita bekerja sebagai ibadah kepada allah. kita bekerja dengan berharap allah ridlo dengan usaha kita untuk memantaskan diri ditolong oleh allah atas apa yang kita cita-citakan. Kita bekerja itu dalam kerangka beramal sholih sebagai bekalan kita mengahadap allah di kehidupan kita selanjutnya.